Followers

Visitor

Archive for Maret 2014

[CERPEN] THE DISAPPOINTMENT OF HATSUNE MIKU

Senin, 31 Maret 2014
Posted by 7
 hasil Surfing-surfing, ketemu cerpen ini. ini udah gua translate, jadi mohon maaf kalo ada kata-kata yang acak-acakan..

oke langsung aja ^^



Aku senang, akhirnya aku mendapat uang untuk apa yg aku butuhkan: VOCALOID Hatsune
Miku. Tentu saja, dia adalah utama karena suaranya yg melengking dan bernada tinggi, tapi aku berpikir bahwa itu sempurna dalam caranya sendiri yg unik.

Setelah pembelian Miss Miku, Aku berjalan keluar dari CompUSA dengan senang sekali lalu pulang
ke rumah untuk mencoba Miku. Aku tak sabar untuk membuat lagu bersamanya. Bahkan aku mempunyai MikuMikuDance, program animasi 3D yg popular itu, untuk digunakan bersama Miss Miku. Dengan semangat aku
memasukan kasetnya ke komputer milikku, aku menunggu installing-nya mulai. Setelah itu, aku mulai merasa ada sesuatu yg aneh dengan program-nya.
"ah, jangan jadi bodoh," kupikir. "kau itu hanya terlalu semangat"
untuk menggunakan VOCALOID."

Setelah menginstall program itu dan membuka sofware VOCALOID, aku mendengar sesuatu...
aneh, tentang Miku. Setiap kali aku membuat note, suara yg keluar adalah rintihan ataupun menangis dan bukan suara senang, melengking, atau imut.

Sesuatu pasti ada yg tidak beres.
"seseorang pasti sudah meng-hack dan bermain- main dengan CD ini," pikirku sangat marah.
"tapi itu mustahil!" pikiranku yg lain memprotes.
"CD itu tidak terdapat goresan diatasnya atau apapun. Itu
benar benar masih dalam kemasan dan itu baru! dan lagi juga paketnya
bersih dan tidak ada robekan atau tanda- tanda kerusakan diatasnya!"

Sementara merenungkan semua ini dalam kebingungan, kekhawatiran, adikku yg berusia
tima tahun tiba tiba muncul dari lantai bawah dan entah bagaimana dia sudah berada di dalam kamarku.
"ada apa, Lola?" dia menunjuk. "apa beneran kau tak apa apa?"

"iya. sekarang tolong, pergilah," kataku dengan suara tenang yg dibuat-buat.

Di luar dugaanku, dia hanya terdiam. "Oke, terserah," katanya sambil mengangkat bahu sebelum meninggalkan kamarku.

Hanya untuk memastikan lagi apakah ada sesuatu yg aneh
dengan program itu, aku langsung membuka program MikuMikuDance tadi setelah itu juga. Saat aku kembali membukanya,
program nya terbuka dengan normal tanpa masalah. Tetapi ada sesuatu yg benar benar tak kuperhatikan sebelum program
MikuMikuDance terbuka.
Sebuah pop up yg memiliki gambaran dari versi pertama model Miku sebagai ikon disudut muncul didepan mataku. Tetapi ikon itu bukan Miku yg terlihat senang dan akan menghangatkan hati siapapun. Sebaliknya, Miku tampak agak stress, depresi, dan... marah. Tetapi itu belum semuanya. Ketika kubaca apa yg pop up itu katakan, mulutku perlahan lahan terbuka.

"aku benar benar kecewa padamu."
Lalu aku menggeleng kepalaku dan tertawa. "
Oh, Jennifer. Pasti dia ingin mengejutkanku dan mempersiapkan ini ketika aku tertidur. Ini tentu saja pasti ulahnya. Mungkin dia hanya memasukkan sesuatu dalam program yg membuatnya begitu, karna dia benar benar handal dengan komputer dan pemrograman."

Hanya untuk memastikan apakah dia hanya ingin membuatku terkejut atau tidak, aku menutup pop up dan program setelah itu muncul sehingga aku bisa mencari disekitar folder MikuMikuDance
untuk apapun yg telah Jennifer kacaukan.

Setelah beberapa menit mencari, aku tidak menemukan apapun. Kecuali plugin program dan
model 3D dan foldernya, dan juga beberapa file PMM, data gerak, pose data, dan file WAV.
Keingingtahuan ku hilang, akupun membuka MikuMikuDance lagi, hanya untuk tatap muka, atau lebih tepatnya, tatap komputer layar, dengan model Project Diva Dreamy Theater Miku.
Aku tidak tahu ini semacam program terbaru seperti program versi multi-modelnya MikuMikuDance atau apa, karena saat aku membukanya tiba tiba saja.. disana.
Dia berdiri disana, melipat kedua tangan di balik punggungnya dengan kecewa dan marah terlihat diwajahnya.
Dan bahkan terlihat ada bekas airmata dimatanya.

"Lola..."

Dia menutupi mukanya dengan kedua tangannya, menangis dan meruntih dalam kesedihan.
"M-M-M-Miku?" tiba tiba aku merasa terpojok olehnya.
"Bagai.. bagaimana kau melakukan ini padaku dan pengguna yg lainnya?! Kenapa kau sangat kejam kepada mereka, kenapa kamu membuatku dan temanku terlebih saudara, dan keluarga?!"
dia terjatuh ke grid seperti lantai, bahkan menangis dengan airmata yg lebih banyak.

"M-Miku, aku... aku bisa menjelaskan!" kataku dengan tergagap-gagap.

"Menjelaskan?! BAGAIMANA?!" dia menatapku dengan suara marah dan melengking. "LIHATLAH
APA YG TELAH KAU PERBUAT PADA MEREKA!!"
Dia menunjuk background, dan terlihat jelas gambaran yg menunjukkan Miku transparan
dengan tampilan ketakutan diwajahnya, tangan didepan dadanya saat dia melihat pengguna
MikuMikuDance yg menggantung dirinya sendiri. Dia terlihat berumur dua belas atau tiga belas. Di ujung poto itu, ada sebuah video komen. Aku berpikir pengguna yg menggantung dirinya itu adalah seseorang yg membuat video tentang Nanami Teto Model yg rambutnya bewarna merah muda.
Kulihat lebih dekat pada judul video, itu terbaca,

"[MMD] NEWCOMER!! KASANE HANA!!"

Lalu aku membaca deskripsinya.

"Saya tidak mengambil keuntungan untuk model ini, karena pembuat asli dari model ini adalah Nanami.
Satu-satunya hal yg saya lalukan adalah mengubah warnanya. Tetapi lihat! sekarang Teto
memiliki teman menari! dia terlihat begitu bahagia dan senang."

Terakhir, aku melihat dengan cermat ke komen- komennya. Kebanyakan dari mereka terlihat
sangan marah dan menghina.
Lalu yg punyaku...

"5 Hari yg lalu HelloxxKittyxx FunWow, hanya saja wow. Kau mengedit model Nanami, dan itu illegal. Cepat dan hapus video itu
sebelum Nanami membunuh seluruh keluargamu."
Lalu Miku membuka poto yg lain. Dipoto terlihat seperti wasiat, dengan tangan yg cukup banyak tergores luka berdarah. Aku mulai membaca wasiat itu. Tulisan tangan yg sedikit sulit dibaca karna
sepertinya ditulis oleh anak berumur tujuh tahun.

"Semuanya membenciku karna aku memberi model Saboten Gumi seorang saudara dan terlihat
senang sepertinya, hanya saja dengan warna yg berbeda. Aku sudah mati, dan aku berharap
semua hater sekarang senang."

Lalu dia menunjukkanku sebuah poto dari komen- komen di video tentang model itu. Semua komentar terlihat lebih buruk.
Tapi setelah itu Miku menunjukkan punyaku.

"6 minggu yg lalu HelloxxKittyxxFun
Kau mengedit model yg illegal lagi, iyakan? Sekarang kau akan meninggalkan semua teman dan keluargamu karena Nanami akan
membunuhmu. Dan semua ini adalah salahmu."
Mikupun menutup poto itu.

"Mereka semua adalah teman ku yg kau buat sedih lalu mereka jadi bunuh diri. Mereka adalah temanku yg kau bunuh dengan KATA- KATAMU." Dia menyipitkan matanya.

"Mereka seharusnya tidak melakukan itu!" Balasku. "Mereka harusnya hanya mengucapkan maaf untuk apa yg dia lakukan! tapi mereka terlalu berlebihan!"

"BERLEBIHAN!?" Miku berteriak.

Aku harus menutup telingaku. Sial, teriakannya itu sangat KERAS.

"Kau menyakiti mereka dengan kata-katamu. Orang lain yg sepertimu MEMBUNUH mereka
dengan kata-katamu. Dan kau katakan mereka itu BERLEBIHAN?! MEREKA ADALAH ANAK ANAK YG
TELAH KAU BUNUH! SEORANG ANAK BERUMUR DELAPAN
TAHUN, TERBUNUH!!"

"Mereka layak dibenci oleh yg lain. Itu illegal untuk mengedit model-model Nanami," aku menggeram kembali.
Aku mulai menyesali apa yg telah kukatakan tentang bagian benci, karna Miku mulai menjadi
lebih marah, dan juga agak... berdarah.
Kulitnya mulai mengelupas, dan juga otot- ototnya, yg sekarang badannya berubah menjadi
tengkorak yg berdarah dengan darah yg mengalir dari lubang matanya. Organ dalamnya terlihat.
Tetapi apa yg membuat detak jantungku berdebar dengan cepat adalah organ hatinya. Yang menjadi kecil dan kecil, seperti balon yg kempes. Miku kemudian mendekat dan mendekat ke layar, dan menunjukkan wajah, hati, dan tubuhnya yang berdarah.

"Kau pikir anak kecil yg layak untuk digertak, hanya karna mereka ingin memberi karakter kesukaan mereka saudara?! Kau pikir mereka
harus bunuh diri hanya saja karna mereka ingin para VOCALOID memiliki kerabat atau teman-
teman lain?!"
Bulu kudukku mulai berdiri. Aku menjadi diam hanya dengan mendengarkan suara awalnya
menjadi suara yg marah dan jahat.
"Apakah kau SANGAT egois?! Sangat egois lalu kau tidak peduli tentang perasaan anak-anak seperti
yg ku perlihatkan kepadamu?! Sangat egois untuk perduli tentang mereka yg mempunyai pembuat
model untuk membuat lebih model buat diberikan kepadamu?! huh?! HUH?!"

Aku ketakutan. sangat ketakutan sampai hampir menangis dalam ketakudan dan kesedihan.
"Lihat?! SEKARANG kau mengerti bagaimana yang aku rasakan?!" Miku memperlihatkan wajah tengkoraknya berdarah dilayar dengan suara iblisnya.

"M-Miku... Aku.. AKU MINTA MAAF!!!!" akupun mulai menangis seperti bayi.

"Jangan katakan maaf padaku. Seharusnya kau meminta maaf kepada anak-anak itu DAN
keluarganya. Jika kau tidak melakukannya sekarang..."

"BAIK, BAIKLAH!!! Aku akan lakukan!!" aku menangis dan dengan cepat membuka jurnal
Deviantart dan mulai menulis apa yg sepertinya akan menjadi sangat panjang.

"Untuk anak anak yg bunuh diri:
Aku minta maaf untuk apa yg telah aku katakan padamu. Aku seharusnya tau kalau kau itu
hanyalah anak anak. aku seharusnya tau ini hanyalah internet, dan tidak semua orang
melakukan hal yg Nanami dan Saboten suka. Sekarang saya mengerti bahwa orang tidak ingin
barang-barang mereka kacau, mereka tidak seharusnya meletakkannya di tempat awalnya.
Dan lagi, aku minta maaf untuk apa yg telah aku katakan pada mu. tolong maafkan aku...
Dan untuk keluarga mereka:
Aku minta maaf untuk apa yg telah kuperbuat kepada anak anakmu. Seperti yg aku katakan sebelumnya kepada anak anak, aku seharusnya
mengetahui ini hanyalah internet. Ku harap kau bisa memaafkanku..."

Ketika aku selesai menulis dan menambahkannya di entry, aku membuka MikuMikuDance lagi. Miku akhirnya kembali normal.
"Terimakasih untuk melakukan apa yg telah kuminta," katanya dengan senyuman dan suara yg telah kembali ke suaranya yg melengking
seperti biasa.


"Aku berjanji, aku tidak akan memperlakukan
anak kecil seperti itu lagi," akupun menangis.
Muka Miku menjadi lembut. "Aku rasa kau
mengatakan yg sebenarnya. Dan itu bagus."

"Terima kasih, Miku..." kataku dengan airmata
dimataku.
Aku mulai merasa hangat. Aku mulai merasa
dimaafkan. Aku telah belajar, Aku tidak akan
pernah mengancam anak-anak lagi.

[CERPEN] True Love

mungkin ini cerpennya gak serem tapi sakitnya itu loh --disini

oiya, harap maklum juga ya kalo nama-nama pemainnya ada yang absurd. lagi males cari nama ^^v

yuk ah langsung baca aja ye ^^

 

Malam ini adalah malam yang ku tunggu.
Tidak seperti biasanya, aku mengenakan banyak Parfum, menata Rambutku, bahkan harus memilah baju apa yang harus aku kenakan.
Ku buka pintuku menatap Bulan bersinar indah dan gadis cantik yang melihatku dari ujung jalan.
Namanya Monica dan kami baru berpacaran, meski begitu kami seperti sudah berpacaran sangat lama dan malam ini akan aku habiskan waktuku untuk bersamanya.

Menonton bioskop, berjalan di Taman hingga makan malam di sebuah Restoran.
Ku katakan pada pelayan tentang pesananku “2 gelas Lemon Tea dan Makanan terlezat yang ada di Restoran ini untuk Monicaku tersayang.”
Pelayan tampak memandang aneh diriku, berkali-kali dia mencuri pandang kearah Mejaku—namun aku tidak perduli, karena aku tahu Monicaku memang sangat menawan.
Setelah beberapa menit disana, aku mendengar seseorang memanggil diriku.
Ketika aku berbalik untuk melihatnya, aku memandang Moyes, sahabat lamaku—dia disini dengan pacarnya.

“apa kabarmu teman, sudah lama aku tidak melihatmu?” sapanya dengan tawa seperti biasanya.
Aku hanya tersenyum dan kemudian dia memperkenalkan pacarnya kepadaku.
Aku tersenyum kepada pacarnya, lalu ku perkenalkan dia kepada Monica yang tersenyum geli melihatku bercengkrama dengan sahabat lamaku—kami bercanda saling melempar Tanya tentang kehidupan kami, lalu ku perkenalkan dia dengan Monicaku.
Moyes menatap Monica untuk sesaat, kemudian menatapku lagi.
“Monica?” ucapnya penasaran, aku berfikir Monica memang sangat menawan hingga Moyes di buat terdiam untuk sesaat.
Tidak beberapa lama, Moyes dan pacarnya berpamitan kepadaku, setelah kami berbincang cukup lama—Monica hanya mendengarkan percakapan kami dengan tetap tersenyum, meski aku tahu Moyes dan pacarnya masih mencuri pandang dengan Monicaku, seolah dia ingin bertanya sesuatu.

**
Hari kian larut, setelah aku mengantar pulang Monica—aku bergegas menuju Rumah kecilku, sebelum aku melihat Moyes dan pacarnya tampak sedang menungguku.
Aku berjalan seperti biasa , dengan raut Penasaran Moyes menghampiriku kemudian bertanya kepadaku “apa kau baik-baik saja Jones?”
“tentu saja, aku tidak pernah sebaik ini” ucapku dengan tersenyum.
“ini semua tentang pacarmu, Monica. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi, namun aku dan pacarku tidak melihat ada gadis disana—di tempatmu duduk. Hanya kau teman.. jadi apakah kau baik-baik saja?”

Aku tersenyum untuk beberapa saat, kemudian aku mengatakan “Oh, Moyes sahabatku. Tentu saja kalian tidak bisa melihat Monicaku. Dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu.”

[CERPEN] WHO (18+ Horror)

*NB : di Cerita ini gua memang menggunakan sudut pandang utama, namun yang gua pengen jelaskan adalah--Cerita ini sangat disturbing, bahkan terlalu buruk untuk beberapa orang yang mengaggap Cerita ini real, karena ini hanya Fiksi, ingat! hanya Fiksi.

karena itu gua akan menulis cerita ini untuk Batas usia 18 tahun ke atas.
kalian yang di bawah usia itu mungkin lebih baik tidak membacanya, boleh membacanya hanya saja harus membedakan bahwa dunia disini sangat berbeda.


SEKALI LAGI, Cerita ini mengandung Adegan Disturbing, Umpatan kasar. dan kejujuran yang di pandang dalam hal negatif, seperti ketidak percayaan pada manusia lain.


oiya.. dan apabila ada nama yang sama, mohon maaf itu gak sengaja. lagi bingung nyari nama.

langsung aja deh ceritanya ^^ selamat membaca!






“Kiky, kau sudah bangun nak..coba tebak, hari ini hari apa? hari ini adalah hari senin, waktunya pergi ke sekolah”

Ku dengarkan teriakan ibuku yang tampak bersemangat pagi ini, namun kau tahu? Aku tidak bersemangat seperti dirinya, mungkin kau akan tahu, apa alasanya.
Aku segera beranjak dari ranjangku untuk bersiap pergi ke Neraka? Apakah aku tadi mengatakan Neraka?
Ya, Sekolah atau Neraka, apa bedanya, bagiku itu sama saja.
Ku lihat wajahku di cermin, ketika ku basuh dengan air, Rambut yang mereka sebut konyol entahlah, aku sedang tidak ingin membicarakan mereka.
Segera ku matikan bathub, dan melangakah menuju kamarku untuk berganti seragam.
Setelah semua siap, aku berjalan menuju Dapur, ku perhatikan ibuku yang tersenyum, sedang memasak Telur sedangkan Roti panggang di meja sudah siap dan masih hangat.
Ibuku selalu senang ketika melihatku menggunakan seragam sekolah, jadi aku tersenyum hanya untuk membuatnya senang. Aku sayang ibuku, dia adalah ibu terbaik di dunia ini.
Selain menjadi ibu yang baik, dia juga menggantikan peran ayahku yang sudah lama meninggal akibat kecelakaan ketika bekerja di luar Kota, senyumnya adalah semangat bagiku, bila aku pergi ke Sekolah alias Neraka itu untuk menyenangkanya, maka aku akan melakukanya.


Ku habiskan Roti itu dengan lahap, kemudian meminum susu di gelas tepat di samping nampan Kopi yang juga masih hangat, semenjak kematian ayahku, ibuku selalu membuat Kopi sama seperti saat ayahku masih hidup, dia belum bisa menyadari kenyataan bahwa ayahku sudah meninggal. Sebenarnya aku sangat sedih, namun bila dia bisa tetap riang di dunia imajinasinya, maka aku akan membiarkanya.
Tetanggaku selalu membicarakanya dan kadang memanggilnya dengan Wanita Gila, namun setiap aku bereaksi, ibuku selalu tersenyum dan mengatakan, tetaplah tenang karena mereka bukan siapa-siapa bagimu, mendengar nasehatnya aku selalu kembali bisa mengendalikan diriku.
Ibuku menatap jendela Dapur rumahku, dan aku tahu, apa yang akan dia bicarakan selanjutnya.
“Kiky, bus Sekolahmu sudah tiba, kau harus siap ya nak.” Ibuku masih tersenyum dengan senangnya sembari membersihkan meja dan menyusun rapi Koran –Koran yang bahkan tidak ada yang pernah menyentuhnya, pernah ada kejadian, aku tidak sengaja menjatuhkan Koran itu, dan ibuku berbicara “Kiky, ambil Koran itu nak, ayahmu sedang membacanya”
Aku sangat sedih dengan dirinya namun bagaimanapun, kami harus tetap hidup.
Kini kakiku mulai tertuju pada Pintu, berjalan menuju bus Sekolah yang sudah menungguku. Ku genggam erat-erat Tasku dan ku kenakan Topi merahku yang biasanya.
Oh ya, sebelum aku memulai segalanya, tentang siapa aku, aku hanya ingin meyakinkanmu,
Ini bukan cerita, karena.. aku adalah kamu, dan kamu adalah aku, jadi apa yang aku bicarakan ini adalah tentang kamu dan aku, 


Kau belum mengerti maksutku, baiklah, kita permudah, apa yang kalian lihat dan Rasakan nanti, aku adalah kamu, jadi apa yang terjadi padaku, kau juga akan merasakanya.
Ku buka pintuku, dan aku bisa melihat, setan-setan kecil pengangguku, dan Wellcome di nerakaku.
Aku mulai melangkah masuk ke dalam bus, dan langsung saja, Sorot mata dari anak –anak sekolah memandangku sinis, aku tidak akan menggunakan kalimat “Teman!!” karena mereka bukan temanku, mereka adalah Setanya!! Setan yang ada di Neraka!!” aku selalu terkekeh membayangkan Setan –setan kecil ini.
Aku berjalan tanpa memperdulikan mereka yang duduk dan memandangku sinis, aku hanya bergumam sama seperti sebelumnya “dasar Sampah Kecil!!” umpatku memandang wajah-wajah memuakkan itu.
Seperti sebelum-sebelumnya, mereka semua tidak ada satupun yang memberikanku kursi, jadi aku akan melakukan hal yang sama, berjalan menuju kursi terakhir dan duduk disana dengan seorang gadis pendiam,
Yang aku menyebut namanya dengan “Black Hair”, sudah lama, aku selalu duduk di belakang bersamanya, namun kami tidak pernah berbicara sedikitpun,
Aku akan menceritakan bagaimana Fisiknya, gadis itu jelek, kulitnya putih pucat dengan bola mata yang besar, biasanya dia menyembunyikan matanya di balik Rambut keriting hitam panjangnya.
Dan saat aku duduk, terkadang dia melirikku dan itu sangat menganggu.
Bahkan aku pernah kesal denganya, jadi aku mengatakan “jangan melihatku seperti itu” dan dia menuruti perintahku tanpa bicara, terkadang aku berfikir, bila si Black Hair ini adalah anak bisu, namun ini bukan urusanku, aku punya daftar memuakkan yang lebih penting daripada mengurusi si Black Hair ini.
Namun ada satu sisi kenapa aku sedikit senang duduk bersamanya, selain dia tidak banyak bicara jadi aku tidak harus mendengar ocehan yang tidak berguna, aku suka karena mereka (Setan-Setan kecil) itu juga memperlakukan si Black Hair ini sama sepertiku, sikap Deskriminasi pada kami,
Aku tidak tahu, kenapa mereka selalu memanggilku Freak!! (Aneh), namun dia (Black Hair) juga mendapatkan sebutan itu, itulah alasan kenapa kami selalu duduk di belakang, namun aku tidak perduli, selama aku masih ingat ibuku, jadi, aku tidak perlu repot –repot mengurus mereka, aku harap kalian tahu, apa arti kalimat mengurus tadi.
Bus berhenti, dan aku mulai bergegas keluar, hingga seseorang mendorongku dan aku terjatuh dari Tangga Bus yang memang tidak terlalu tinggi namun cukup memberiku rasa sakit.
Ku tatap seseorang yang bertanggung jawab dengan aksi dorongnya yang aku rasa di sengaja, dan mataku menangkap 3 Setan yang membuatku tidak terkejut.
“Amir, Bastian dan Jon”
Ku angkat tubuhku memandang sengit mereka bertiga, “kau lihat apa, Freak!!” ucap Amir dengan tersenyum penuh kebencian,
Ku kepalkan tanganku, dan bersiap ku bunuh cecunguk itu, namun kakiku terhenti pada kalimat ibuku yang melarangku agar tidak membuat keributan, setidaknya, aku tidak mau lagi, ibuku datang ke sekolah untuk meminta maaf ke seribu kalinya pada kepalas sekolah, jadi, aku memilih untuk pergi.
**
Hari ini di sekolah, saat pelajaran matematika, aku memilih untuk melakukan hal lain yang mungkin lebih berguna bagiku yaitu membaca Manga.
Hingga tiba-tiba teriakan dari bu Friska mengejutkanku, “Kiky, kau membawa komik lagi ke sekolah?"

"bu! ini Manga bu! bukan Komik!" seru ku.
"Anak nakal, apa kau merasa sudah pintar , maju kamu, !!”
“Ehm” umpatku kesal, ku letakkan manga-ku dan melangkah maju untuk menemui si Cerewet itu,
“kau pikir, kau sudah pintar.. hingga memilih membaca komik daripada mendengarkan ibu” katanya dengan nada kasar sembari mengetuk kepalaku, dan aku hanya diam memandangnya.
“ha. Jawab!! Apa kau sudah pintar??” katanya lagi dengan menunjuk dadaku,
“aku bosan!! Pelajaran ibu terlalu membosankan, dan pelajaran ini, hanya untuk anak SMP!!” ucapku meremehkanya, karena aku memang benci pelajaran si cerewet ini.
“kau memang anak SMP!! Apa kau sudah merasa besar.. kalau begitu, kerjakan ini, bocah Sok!!” katanya lagi dengan memberikanku spidol hitamnya,
Ku lihat Rumus-rumus membosankan itu, dan aku mulai menulis jawabanya,
Hanya 40 detik bila aku menghitungnya dari, tiap detik jam yang berdetak di atas papan tulis untuk menyelesaikan soal Membosankan itu,
“aku selesai” ucapku meletakkan spidol itu di tangan si cerewet, dan dia hanya menatapku sengit.
Aku kembali ke mejaku untuk melanjutkan manga-ku, ketika mataku menangkap mata dari si Black Hair, aku selalu kesal!!
Namun sebaiknya, aku kembali saja ke manga-ku, bukan waktuku untuk berteriak pada si Pendiam Black Hair itu.
**
Jam istirahat mulai terdengar,
Aku melangkah ke kantin, dan memilih bubur ayam yang biasanya aku lewati, namun hari ini entah kenapa, aku ingin mencobanya.
Ku bawa bubur ayam dengan es teh yang ku letakkan di Plat Siswa, mencari meja kosong yang mungkin bisa ku duduki,
“Sial, semua meja penuh. Kecuali.. ya, ada satu kursi, di sebelah Black Hair, baiklah, tidak ada pilihan” gerutuku berjalan menuju Black Hair yang menikmati Roti hangusnya,
Sama seperti hari-hari sebelumnya, dia begitu suka dengan Roti hangus dan minuman Orange menyerupai Jus Wortel namun memiliki bau yang amis.
Sebelum aku sampai disana, seseorang menghalangi jalanku, dia adalah Amir.
“Hai Freak!! Kau mau kemana” ucapnya dengan sinis,
Ketika ku sadari, Bastian dan anak Gemuk Jon sudah mengurungku, aku tidak peduli dan tetap berjalan melewati Amir, hingga.. Amir menumpahkan makanan yang ku bawa,
“Ups, maaf.. kau tidak marah kan Freak!!”
Aku terdiam beberapa saat, memandang bubur ayam dan es teh yang dia jatuhkan, “kau mau ini, ambilah ..” ringkihnya dengan seolah dia tidak salah.
Aku berbalik dan melangkah pergi, karena aku sedang tidak ingin membuat masalah dengan siapapun.
Namun Jon mendorongku, hingga aku terjatuh, dan tentu saja, aku terduduk dengan bubur ayam dan teh menempel di celanaku.
“Hahaha!!” Jon, Bastian dan Amir tertawa,
Ku tatap mereka, namun, ku yakinkan diriku sekali lagi, aku sedang tidak ingin membuat masalah,
“ada apa denganmu Freak!! Kau tidak mau melawanku.. hahaha, dasar anak Aneh!!”
Tak ku hiraukan setiap ejekan dari mereka, ku sadari, seluruh Ruangan di kantin ini menertawaiku, menertawai celanaku yang berlumuran dengan bubur ayam.
“hei Bodoh, apa kau Tuli, atau kau ini pngecut” Bastian mengejekku, namun aku tidak memperdulikanya,
“Dasar Tuli!! Apa kau mau menangis dan berlari untuk mengadu pada wanita jalang itu!!”
Dleg” suara jantungku tiba-tiba berhenti, ketika mendengar itu.
“kau bilang apa?” ucapku menatap Jon,
“wanita jalang, bukankah dia ibumu. !!” Jon kembali menimpali,
“tarik kata-katamu, babi kecil!!” ucapku meyakinkanya,
“bila aku memanggilnya dengan wanita jalang lalu kau mau apa? Oh, ya, kau kan sampah, kau lahir dari rahimnya, aku yakin.. wanita jalang itu sebenarnya tidak tau, siapa ayahmu!!”
Kata Jon semakin senang,
aku terdiam memandang matanya, memandang senyumanya, jadi, ku kepalkan tanganku dan ku putuskan untuk pergi meninggalkanya,
“Hei, pengecut!! Ibumu memang wanita jalang, bagaimana kau tidak tahu, dia bekerja setiap malam, dimana lagi dia mendapatkan uang bila bukan dari Pria hidung belang!!” Jon kembali menimpaliku, namun aku tetap berjalan dan meninggalkan mereka.
**
siang hari, aku memilih untuk bolos dari pelajaran Fisikaku, selain karena aku sedang malas melihat rumus-rumus bodoh, lebih baik, aku menghabiskan waktuku disini sembari membaca komikku.
Sebelum ku dengar, suara Bell tanda berakhirnya pelajaran sudah berdering, dan itu mengalihkan perhatianku dari komikku.
Ku ambil sebuah Tongkat Kayu Baseball yang ku curi di Gudang Olah Raga tadi, aku berjalan menuju Gang sempit Sekolahku,
Dan disana aku melihat Babi itu, sedang melihat sepedanya. dimana Rantainya putus karena ulahku, ku sembunyikan Tongkat Kayu itu di belakangku, untuk menyapanya.
“kau butuh bantuan teman” sahutku, meskipun aku ingin muntah saat harus menyebut kalimat “teman”
Dia menyipitkan matanya, dan meludahi sepatuku untuk kembali membenarkan Rantainya,
Tanpa berfikir terlalu lama, ku ayunkan tongkatku hingga aku bisa meraskan Tengkoraknya yang Hancur,
Namun, aku tidak mau melihatnya mati dulu, jadi, ku seret dia dari tempat itu.
Di belakang Sekolah ada bangunan Tua,
Dan aku mulai menunggunya, aku duduk memandang si Babi yang masih terlelap dalam mimpinya, darahnya yang mengenangi tanah, membuatku sangat senang, senang mencium bau menjijikkan itu.
Hingga, malam pun tiba, dan si Babi mulai sadar,
“Hallo Jon” sapaku pelan,
“kau- tidak!! Menjauh!!” si Babi tampak aneh, entah kenapa , dia berteriak padaku.. jadi, ku ambil lagi tongkat kayuku untuk kembali mendekatinya,
“jangan- aku mohon, ampuni aku, aku menyesal”
Huu” aku bernafas semakin bersemangat, dan tersenyum lebar, bukan karena dia akan mati, namun karena, dia memang seperti Binatang Babi, meminta ampun saat akan di sembelih.
Aku tertawa, dan ku ayunkan Tongkatku di keningnya, ku pukuli tengkoraknya,
Aku bisa melihat, darah merembas keluar, dan kepalanya terus saja ku pukuli sekalipun dia meminta untuk menghentikan,
Aku sangat gembira, melihat wajahnya,
Namun aku belum puas,!! Akan terus ku pukuli dia hingga 100 kali, sekalipun otaknya sudah tercecer ketika aku memukulinya pada hitungan ke 70,
Namun aku akan melakukanya, Babi ini pantas mendapatkanya.
Setelah puas, aku mulai mengambil Parangku yang biasa ku letakkan di sisi Semak-semak, parang itu biasa ku gunakan untuk menghukum setan lain,
Aku jadi ingat, aku pernah menghukum Setan lain, hanya saja, aku sudah menguburnya di bawah Pohon dekat Taman sekolah, hanya itu yang bisa ku ceritakan untuk sekarang pada kalian, karena si Babi juga akan masuk daftar Setan yang sudah ku basmi.
Ku potong terlebih dahulu pergelangan tanganya. Dan mulai ku ambil Daging-daging penuh lemak itu. Ku jadikan sebuah daging yang bisa ku bawa menggunakan kantong Palstik Hitam.
Ya, lumayan juga, aku bisa meletakkan segala bagian tubuhnya pada 2 kantong Plastik, dan sisanya aku bakar dengan Sampah sekolah yang lainya,
Saat aku berjalan meninggalkan sekolahan, aku bisa melihat, si Black Hair sedang mengawasiku, namun aku melewatinya, karena aku tahu, dia tidak akan suka ikut campur dengan urusanku.
Kau tahu apa sisa yang ku maksut tadi , itu meliputi jantung, ulu hati dan beberapa jeroan atau otaknya, yang aku pikir sebelumnya, babi itu tidak memiliki Otak.
Sebelum aku pulang dan mendapatkan amarah dari ibuku, aku berjalan untuk mampir di sebuah pasar, disana aku menemukan banyak sekali Anjing liar, jadi karena hari ini aku senang, ku Taburkan Potongan daging geratis itu pada mereka,
Dan sisa satu kantong plastic, ku bawa pada Tukang giling Daging langgananku,
Seperti biasa, pria itu bertanya tentang “dimana aku membeli daging ini”
Namun aku menjawabnya dengan santai, “hanya daging anjing yang biasa ku temukan di ujung pasar”
Selanjutnya, aku sendirilah yang mengilingnya, karena aku sudah di percaya sebagai langganan nomer 1 nya,
Setelah semua itu selesai, ku serahkan daging gilingan itu, pada seseorang yang akan suka dengan gilingan daging pemberianku. Aku bisa mengambil uangnya pada hari esok, karena daging yang ku bawa selalu kualitas nomer 1.
Pekerjaanku hari ini selesai, jadi aku memutuskan untuk pulang, dan menerima amukan dari ibuku, namun aku senang, aku pasti bisa tidur dengan tenang.


Selesai 

[CERPEN] Lebih Baik Memaafkan

Sabtu, 15 Maret 2014
Posted by 7
Beberapa orang yang saling bersatu. Itulah yang ku sebut kelompok. Orang-orang yang ada di dalam kelompok itu, akan berusaha untuk menjaga keharmonisan antar anggota kelompoknya, dengan cara meningkatkan kekompakan, menguatkan persatuan dan sebagainya. Tapi, itu semua tidak menjamin keharmonisan dalam kelompok. Banyak halang rintang yang berusaha untuk menggoyahkan itu semua.
Kadang, disadari atau tidak, disengaja atau tidak. Di dalam kelompok itu pasti ada perpecahan yang menjadikan beberapa kubu didalamnya, dan membuat keharmonisan kelompok kita retak. Retak. Belum pecah, masih bisa di perbaiki. Meski yang menjadi “pusat” permasalahan atau perpecahan itu hanya dua orang. Tapi itu semua memberikan pengaruh yang besar terhadap orang lain.
Ketika mereka (orang yang berselisih) adalah teman bahkan sahabat kita, kita tak tahu harus bagaimana. Harusakah kita pro atau malah kontra. Pro artinya sependapat, dan kontra artinya tidak sependapat. Apakah kita harus pro pada si A, dan kontra pada si B? atau pro pada si B, dan kontra pada si A. Dan disinilah kita dilema. Hati kecil pun yang katanya selalu bisa memilih tak dapat memilih. Karena ini menyangkut “kebenaran” dan “keadilan”. Maka, jalan yang sering diambil adalah netral. Dimana tidak ada pro dan kontra terhadap keduanya.
Hari ini matahari bersinar dengan teriknya. Panasnya menembus baju olahraga ku, dan tepat masuk menjilati kulitku. Aku bersama teman-temanku duduk di bawah pohon akasia yang rimbun, sambil sesekali mengibas-ibaskan kerudung dan diiringi keluhan-keluhan. Ada juga yang mengambil dedaunan lalu menjadikannya kipas. Konyol. Disaat diam menatap langit, roda video yang berisi memori masa lalu itu berputar begitu saja. Mengajakku untuk bernostalgia.
Hari itu aku bersama teman-temanku, Luna, Kinal, Ayana, Rona, Beby, Sonya, Melodi dan yang lainnya, sedang berkumpul sambil bernyanyi ria di bawah pohon palm di depan kelasku.
“Koi wa itazurana tenshi no shippo FUWAFUWA mikiko ni nigeruno, akogareno taiyou ga mabushi sugiru..”
Begitulah lirik yang kami nyanyikan. Terlihat asing bukan? Tentu saja, itu lagu dari Negeri Matahari Terbit.
Pandanganku tertarik pada tiga orang manusia yang sedang berkumpul di dekat pintu kelas, mereka Stella, Via dan Nabilah. Aku melihat wajah Stella yang seperti hendak menangis. Melihat kejadian itu, aku jadi teringat kejadian pada hari kemarin. Kemarin sepulang sekolah, aku bersama Luna CS sedang bergunjing di depan kelas. Kami menggunjingkan Stella tentang tingkah dan sikapnya yang menyebalkan juga centil. Memang, kami tidak menyukai tingkah dan sikap stella, apa lagi Luna. Kami sepakat tidak akan memberitahukan apa yang kami gunjingkan kepada Stella. Tapi salah satu di antara kami ada yang berkhianat.
Melihat Stella yang kini sudah menangis, hatiku menjadi merasa bersalah. Meski bukan aku yang membocorkannya, tapi aku tetap merasa bersalah. Bersalah karena sudah menggunjingkan dia. Kenapa juga kemarin aku terbawa emosi? Oh god… kenapa penyesalan selalu datang terakhir. Aku baru menyesal dan menyadari kesalahnku ketika Stella sudah menangis. Tapi aku tidak menyukai sikap Stella dan sependapat dengan Luna, tapi di sisi lain, aku merasa bersalah kepada Stella karena kemarin telah menggunjingkannya.
Stella, maafkan aku. Aku tahu aku salah dan ingin meminta maaf langsung padamu. Tapi, saraf-saraf ini seperti tidak berfungsi lagi. Aku hanya bisa diam dan memandangmu yang tengah menangis sakit hati. Oh God… siapa yang harus aku pilih? Stella, ataukah Luna? Tidak! Maaf teman aku tak bisa memilih salah satu di antara kalian. Cause you are my friendship.
Hari jumat yang free, aku bersama Luna sedang duduk di depan kelas. Kami menceritakan ini dan itu sampailah kami di satu titik, dimana kami menceritakan Stella.
“Lun, kamu masih marah ya sama Luna?” Tanyaku penuh selidik.
“Iya.” Jawab luna singkat.
“Apa gak sebaiknya kamu duluan yang minta maaf?” Tanyaku lagi.
“Gak. Kamu kenapa sih Cik? Mau bela dia?” Jawab Luna dan diiringi pertanyaan pertanyaan sinis.
“Dengar ya Luna, disini aku gak bela siapa-siapa.” Ucapku dan langsung pergi meninggalkan Luna yang wajahnya berubah masam.
Aku menghampiri Stella yang tengah menulis di bangkunya. Memang aku dan Stella telah akrab seperti biasanya.
“Stella, kamu masih marah ya, sama Luna?” Tanyaku pada Stella.
Stella menatapku dan memberhientikan aktivitasnya. “Siapa sih yang gak marah dan sakit hati kalo disebut begituan?” Ucap Stella lalu melanjutkan menulis lagi. “Pasti marah kan, termasuk kamu.”
Ucapan Luna memang blak-blakan dan nyelekiiittt… pantas saja, Stella masih sakit hati dan tidak terima di bilang seperti itu. Memangnya pembaca mau kalau disebut l***e? pasti tidak. Karena ucapannya itulah, Luna orang paling ditakuti di kelas.
Hari telah berlalu, aku melihat Luna dan Stella sudah tak saling bicara. Suasana kelas pun menjadi dingin. Mungkin, tugasku disini adalah sebagai penengah dan pemersatu. Mmm.. difikir-fikir aku seperti avatar yang bertugas menyatukan duni… hahah.. ngimpi. Tapi bener loh, aku ingin menyatukan kembali persahabatan kami. Karena aku teringat kata-kata favorit ku: Perbailkilah selagi retak sebelum pecah.
Sepulang sekolah hari ini, aku menunggu motorku yang belum keluar bersama Luna di depan lobi. Aku akan mencoba untuk menyuruh Luna meminta maaf kepada Stella.
“Lun, kamu yakin gak mau minta maaf duluan sama Stella?” Tanyaku hati-hati
“Gak! Gak akan, dia yang salah.” Ucap Luna tegas.
“Sebaiknya, kamu yang minta maaf duluan sama Stella deh, dia kan ngerasa sakit hati gara-gara ucapan kamu yang super nyelekit itu loh..”
“Kamu kenapa sih Cik? Aku dan Stella yang punya masalah, kok jadi kamu yang repot. Lagian, aku gak salah.” Uuuhhh… anak ini memang keras kepala.
“Kamu harusnya mikir luas dong Luna, di dunia ini mana ada orang yang mau salah dan dianggap salah. Semua orang itu selalu ingin benar dan dianggap benar. Tapi, apakah “kebenaran” yang diraskan itu adalah “kebenaran” sesungguhnya? Belum tentu. Karena benar menurut diri sendiri, belum tentu benar menurut orang lain.” Aku menceramahi Luna, dan pergi begitu saja. Hahah.. ini kebiasaanku.
Saat jam kosong seperti ini, biasanya, aku menulis kata-kata mutiara pada serial manga naruto favorit ku. Tapi kini tidak, aku akan melanjutkan misiku. Aku menghampiri Luna yang sedang dreaming di bangkunya.
“Wooyyy… ngelamun mulu! Awas, nanti kesambet, baru tahu rasa kamu.” Ucapku setengah meledek.
“Hus, ngomong apa sih. Kamu tuh yang sering kesambet. Jadinya sering ceramah.”
“Hahah.. O ya Stella, kamu masih marah sama Luna?” Tanyaku, dan dijawab anggukan oleh Stella.
“Kalo misal nih, Luna mau minta maaf duluan sama kamu. Kamu mau maafin gak?”
Stella menatapku, lalu tersenyum “Cika, aku selalu memaafkan orang yang meminta maaf padaku. Malu dong, Allah saja maha pemaaf, masa hambanya tidak.” Ucapan Stella memang halus dan bijak. Tapi sikapnya itu lohh.. kalau pembaca lihat pasti gak suka.
“Gimana, kalau kamu yang minta maaf duluan sama Luna.” Usulku coba-coba.
Stella menggeleng “Masih sakit hati dan dendam.” Jawabnya.
“hufftt” aku membuang nafas berat. Beraharap semua susah ini ikut berhembus bersama karbondioksida itu.
“Lagi pula, aku gak salah, dia sendiri yang salah karena sudah berkata yang tidak-tidak terhadapku.”
“Kamu memang gak salah Stell. Tapi, sikap kamu di mata Luna salah, jadi kamu tetap punya kesalahan dong, di mata Luna.” Ucapku
“Tapi aku gak mau minta maaf duluan!”
“Stella, apa salahnya sih, minta maaf duluan? Aku tahu, kamu sakit hati. Ibarat permainan panah meski memaafkan dan dimaafkan, masih berbekas. Lagipula, kalau kita meminta maaf tulus dari hati, sakit hati yang kita rasakan saat ini akan hilang dengan sendirinya. Kamu jangan kekanak-kanakan gini dong. Kita ini sudah dewasa, sudah tahu yang namanya dendam itu salah. Kamu harusnya malu dong, anak kecil aja kalau marahan suka langsung maaf-maafan. Kalau kamu kapan? Mau nunggu lebaran? Kelamaan, masih satu tahun lagi.. Marah lebih dari satu hari itu namanya orang egois.” Ucapku, dan pergi begitu saja. Hahah..
Aku tidak akan pernah menyerah untuk menyatukan persahabatan kami. Mungkin ini adalah misi mulia hehe.. Tapi sumpeeehhh brayy susah.. Hari itu, aku berangkat sekolah seperti biasa. Aku langsung menuju kelasku yang terletak paling ujung kelas X.
Setelah sampai di kelas aku begitu terkejut. Aku sungguh tak menyangka. Oh God.. apakah ini mimpi? Atau nyata?
“Aaaaaaa…” Teriakanku menggema di kelas X8, dan seketika pula aku mendapatkan jitakan keras di kepalaku oleh teman lelakiku, dan mendapat omelan dari teman perempuanku.
“Aaaa… Stella… Luna…” Aku berteriak-teriak gaje, sambil jingkrak-jingkrakan.
“Cika, aku punya banyak obat di rumah, bisa kamu minum kok. Siapa tahu kamu sembuh..” Ledek Ayana dengan watadosnya.
“Ngehina kamu Ay, aku waras.” Tegasku! Dan tersenyum bangga kepada Luna dan Stella.
“Cika, terimakasih ya, aku gak tahu, mungkin kalau gak ada kamu, aku masih egois.” Ucap Luna. Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum dan sedikit anggukan.
“Iya Cik, mungkin kalau gak ada kamu, aku masih bersikap kekanak-kanakkan.” Ucap Stella.
“Iya.. nah, gini dong.. kan enak lihatnya, gak ada kubu satu kubu dua. Jadi kelas gak dingin lagi, ceria gitu lohh maksudnya. Lagi pula seharusnya kit..”
“Ahh sudahlah, jangan ceramah terus. Yang penting kita semua sudah baikan.” Ucap kinal.
Mengingat perjuanganku yang sulit untuk mempersatukan persahabatan kami itu, aku selalu ingin menjaganya. Meskipun selalu ada pertengkaran pertengkaran kecil di antara kami. Ya.. tidak masalah selama tidak membuat persahabatan kami retak. Sekarang aku hanya menjadikan kejadian itu untuk kukenang, dan aku jadikan guru untuk belajar, agar aku tak melakukan hal serupa. Karena, aku pernah mendengar, guru terbaik adalah masa lalu.

[FanFiction] Sepeda Untuk Shania



Aku berjalan menuju sekolahku. Pagi itu masih
segar udaranya. Beberapa teman melewatiku
dengan sepedanya. Aku percepat langkahku.
Setelah melewati sebuah supermarket berlabel
Tujuh11, aku bertemu dengan seorang wanita
memakai seragam yang sama dengan sekolahku.
Rambutnya panjang, wajahnya manis
“Shania.” Sapaku pada wanita itu.
“Hei...” Balas Shania.
“Shan, udah ngerjain PR matematika?” Tanyaku.
“Baru selesai 13 nomer, abisnya susah.”
“Iya sih, MATEMATIKA, Makin Tekun Makin Tidak
Karuan ya, Shan.”
“Hahaha lucu banget sih kamu.” Ucap Shania.
“Emanganya Badut, lucu.” Balasku.
Aku dan Shania berjalan bersama. Kini aku dan
Shania memasuki gerbang sekolah. Aku
menghampiri teman-temanku dikantin dan
Shania menghampiri temannya di lorong
sekolah. Bel
sekolah berbunyi. Aku segera kekelasku yang
dilantai dua.
Mentari sinari ruang kelas, hawa tepat tuk
terbuai lamunan. Melihat Shania yang duduk di
depanku, membuat rasa ingin memanggil
namanya. Ibu guru menyebut absen murid kelas.
“Shania Junianatha?” Panggil ibu Guru. Aku dan
Shania mengangkat tangan bersamaan.
“Aa.. A, a, azzeeekkk. Yang dipanggil satu, yang
nyaut, duaaaa.” Ledek Ochi.
“Sudah, sudah.” Bu Guru menenangkan.
“Eh, Shan, maaf yah.” Ucapku.
“Iyaa, gapapa kok.” Balas Shania sambil
tersenyum.
Pelajaran dimulai, Shania masih sesekali
menoleh kebelakang dan senyum padaku. Dan
Ochi
pun juga meledek.
Bel istirahan berbunyi. Aku keluar dari mejaku,
begitu juga Shania. Saat aku berjalan, aku
sempat menabrak ia yang didepanku. Ia
membalikkan badannya dan tersenyum. Ah,
kenapa harus
tersenyum padaku? Membuat aku ingin mimisan
saja melihat senyumnya yang manis.
Kantin siang itu cukup ramai. Aku duduk
bersama teman-temanku didekat tembok.
Shania
duduk dengan Ochi di tengah. Dari tempat
dudukku, masih bisa terdengar suara Ochi dan
Shania.
“Ochi makan Mie, Shania makan ayam, jadi Mie-
Ayam.” Ucap Ochi.
“Terus, Chi?” Tanya Shania
“Jadi kita samaan. Toss!” Ochi menepuk tangan
Shania.
“Dasar singit, Ochi.. Ochi..” Ucap Shania.
“Emang layangan koang, singit.” Balas Ochi.
Saat Shania sedang mengambil kecap, Ochi
mencolek Shania.
“Shan, mau liat orang gila gak?” Tanya Ochi.
“Siapa?”
“Tuh.” Ochi menunjuk kearahku.
Shania melambaikan tangan ke arahku. Senang
bukan main pastinya diriku. Shania
melanjutkan senyumnya, ia kemudian menunjuk
tangannya ke arah gelasku. Ah, pantas saja Ochi
bilang aku orang gila, ternyata aku memasukkan
saos ke gelas es jerukku. Shania dan Ochi masih
mentertawaiku.
Setelah jam pelajaran terakhir, aku dan murid-
murid sekolah berkerumunan keluar sekolah.
Saat aku sedang berjalan, dari belakang, temanku
menepuk pundakku.
“Sepedanya udah ada tuh.” Ucap temanku.
“Mana?” Tanyaku.
“Dibelakang sekolah, kok tumben sih pengen
naik sepeda?”
“Gapapa, biar ada kenangannya aja.”
Aku dan temanku ke halaman sekolah untuk
mengambil sepedanya. Aku cek rantai dan rem
sepeda itu. Setelah kuperiksa aman, aku bawa
sepeda itu.
Ku kayuh sepeda itu. Rasanya cukup nyaman. Di
ujung jalan kulihat ada Shania.
“Shan..” Panggilku.
“Eh, itu sepeda siapa?”
“Bareng yuk, mau gak?”
“Hem , tapi...”
“Tapi kan Shania kalo jalan kaki capek, yuk.”
Ajakku.
Shania duduk dibelakang dengan posisi miring. Ia
memangku tasnya. Aku terus mengayuh
sepedaku.
Sampai sudah dirumah Shania.
“Makasih yah.” Ucap Shania sambil tersenyum.
“Iya sama-sama, eh, Shan.”
“Ya?”
“Kalo besok pagi, bareng lagi kesekolah, terus
pulangnya temenin ke toko buku mau gak?
Tanyaku.
“Hem... Mau sih. Besok pagi ketemu dimana?”
“Didepan rumahmu, gimana?”
“Oke, sampai besok yah.”
Aku hanya membalas senyum manis Shania dan
pergi dari rumahnya. Shania masuk ke dalam
pagar dan melambaikan tangannya padaku.
*
Pagi itu masih terasa sejuk. Aku sudah tiba
didepan rumah Shania. Ia sudah berdiri sambil
memakai cardigans berwarna biru. Ia tersenyum
dan langsung duduk di bagian belakang sepeda.
Perjalanan sepeda pagi cukup menarik, mulai
membahas PR Bahasa Indonesia.
“Shan, udah ngerjain PR bikin cerpen?” Tanyaku.
“Udah dong, judulnya Sepeda Untuk Berdua,
kamu?” Tanya Shania.
“Udah, judulnya Hari Pertama.” Jawabku.
“Hihihi.” Shania tertawa lucu.
“Kok ketawa?”
“Iya, kalo cerpen kita berdua digabung, Hari
Pertama Sepeda Untuk Berdua, itukan kemarin.”
Aku merasa sangat senang saat Shania bicara
seperti itu. Semua terasa sangat indah, seolah
dunia hanya milik berdua, sampai akhirnya....
“Azzeeekkk... Sepedaan berdua.” Ochi datang
dari belakang naik ojek motor.
“Duh, Ochi.” Ucapku pelan.
“Apa lu? Duh aduh, emangnya Ochi kenapa?”
Tanya Ochi.
“Kayak yang malem Jumat, masa tiba-tiba
nongol.” Jawab Shania.
“Ciee, Ochi naik ojek motor, kalo Shania naik
ojek cinta, dadaaahh.” Balas Ochi.
Ochi dan ojeknya langsung melaju cepat setelah
meledek aku dan Shania.
Kini gerbang sekolah telah terlihat, Shania turun
dari sepeda dan masuk duluan. Aku menaru
sepdeda dan merantai dan gembok dekat pagar
halaman sekolah.
*
Pulang sekolah ditandai dengan bel. Shania
menungguku di depan sekolah. Aku
mengeluarkan
sepda dan kami naiki sepeda itu berdua.
Aku dan Shania menuju toko buku dekat komplek
rumah kami.
Sesampainya, aku langsung menuju rak buku
mancanegara, dan mengambil buku berjudul
Australia. Setelah kubaca beberapa halaman, aku
kembali menghampiri Shania.
“Beli buku nggak, Shan?” Tanyaku.
“Enggak, liat majalah aja, kamu?”
“Tadi Cuma mau baca buku doang bentar, eh
makan yuk.”
“Dimana?”
“Udah ntar pasti suka.”
Di sebrang toko buku itu ada sebuah cafe kecil.
Di cafe itu tertuliskan “Warung Pemadam
Kelaparan”. Aku dan Shania duduk di depan dekat
jalanan. Angin sore mulai terasa.
“Mau makan apa, Shan?” Tanyaku
“Hem disini yang spesial apa?”
“Kalo yang spesial disini, tumis kaktus, kucing
saus tiram, tapi kalo yang spesial dihatiku ya
kamu.”
“Gombal.” Balas Shania sambil tertawa.
“Gombal mah yang dipinggir jalan.” Balasku.
*
Sore mulai menyapa, aku dan Shania masih
bersepeda. Saat bersepeda menuju jalan pulang,
ada sebuah turunan yang curam di depanku.
“Shan, berani gak?” Tanyaku.
“Turunan doang? Berani lah.”
“Tapi gak pake rem.”
“Terus berentinya gimana?”
“Detak jantung kita yang berentiin.”
“Mati iyadeh.”
“Berani gak, Shan?”
“Siapa takut.” Balas Shania sambil memelukku.
Aku hanya mendorong sedikit sepedaku dan
sepeda melaju kencang, kurasa angin
menghembus kemejaku. Pelukan Shania dari
belakang makin erat. Aku merasakannya. Kami
berdua
berteriak.
Saat sampai diujung turunan, aku menekan rem.
Aku dan Shania masih mengatur nafas karena
sepeda kami terlalu kencang tadi. Shania turun
dari belakang sepeda dan berdiri di sebelahku.
“Hah, gila, tegang banget yah.” Ucap Shania.
“Iya, Shan.” Balasku.
“Itu hidungnya kenapa?”
“Ha?” Aku memegang hidungku dan ada cairan
berwarna merah.
“Ih, kok mimsan, nih tissue.” Shania
memberikan tissue padaku.
“Yah, mimisan deh.” Jawabku sambil mengelap
darah dihidung.
“Iya, kok bisa deh?”
“Abisnya, tadi Shania meluknya kenceng banget.”
“Terus?”
“Terus, akunya seneng banget.”
“Ih... Bodoh deh.” Balas Shania sambil mencubiti
aku.
Kami berdua jalan bersama sambil menenteng
sepeda dan bergandengan tangan sore itu.
*
Suasana kelas kosong pagi itu cukup ramai. Aku
di depan pintu kelas bersama teman-temanku,
Ochi yang sedang duduk sendiri dikursinya,
dihampiri Shania.
“Ochi, mau curhat dong.” Minta Shania.
“Azeeekk, pasti curhatin pria ojek cinta itu kan?”
“Apaan sih, eh tapi ya, kemarin tuh seru banget
gue sama dia, makan bareng, pulang bareng.”
“Cie Shania jatuh cinta.” Ledek Ochi.
“Ah, mungkin bagi dirinya hanya teman sekelas
saja, yang jalan pulangnya searah.” Lanjut Shania.
“Keberadaannya seperti angin ya? Kayak
numpang lewat gitu?”
“Iya, Chi. Kadang selalu bercanda, padahal kita
selalu saling bicara.” Lanjut Shania.
“Kenapa gak ngomong aja?” Tawar Ochi.
“Ngomong apa?”
“Ngomong ke dia, tentang perasaannya Shania,
daripada nyesel.” Tantang Ochi ke Shania.
“Gak tau deh, Chi. Bingung.” Jawab Shania.
*
Aku menenteng sepedaku, Shania berjalan di
sebelahku. Pagar rumah Shania terlihat. Aku
berdiri di depan rumahnya.
“Shan, boleh minta tolong gak?”
“Apa?”
“Sepeda ini besok kamu yang bawa yah
kesekolah.”
“Lho, kenapa?”
“Gapapa sih, besok kayaknya aku telat, mau ya?”
“Yaudah deh, mampir gak?” Tawar Shania.
Ini adalah kali pertama Shania menawari aku
untuk mampir kerumahnya. Aku mengiyakan
ajakannya.
Aku duduk diteras , Shania keluar dari dalam
rumah membawakan sirup berwarna merah dan
makanan kecil.
“Shan, enak yah sore-sore disini, hehe.” Ucapku.
“Enak pemandangannya, apa sama aku?” Tanya
Shania.
“Hem.. Pemandangan indah, bisa tambah indah
tergantung sama siapa nikmatinnya.”
“Emang kenapa sih sama sepedanya?” Tanya
Shania.
“Gapapa, pokoknya besok Shania bawa yah ke
sekolah.”
Setelah menghabiskan minum, aku pamit pada
Shania untuk pulang. Kebetulan orang tua
Shania sedang tidak dirumah, jadi aku tidak
berpamitan pada mereka.
Aku keluar pagar dan masih tersenyum pada
Shania.
Saat Shania sedang melihat sepeda itu, ia
menemukan sepucuk surat yang terselip di kursi
belakang, di surat itu tertulis, “baca dikelas yah,
Shania.”
*
Shania mengayuh sepeda itu sendirian menuju
sekolah, tanpa diriku. Sesampainya dikelas, ia
membuka surat itu. Dibacanya surat dengan
tulisan tanganku.
Shania, maaf aku gak bisa ngomong langsung.
Sepedanya gimana? Enak kan?
Hem... Maaf, mulai semalam aku pindah ke
Australia.
Aku minta maaf banget sama kamu, aku gak bisa
ngomong langsung, aku benci perpisahan.
Aku harap kamu bisa ngerti, Shan.
Aku nyaman kalo ada di dekat kamu, berdua
sama kamu.
Maafkanlah Shania, ampunilah diriku ini yang
tidak menyatakan cinta, aku adalah lelaki yang
jahat.
Aku gak kemana-mana kok, cuma beda jarak aja
sama kamu, sepeda itu tetep ada buat kamu.
Kalo kamu baca surat ini, kamu pasti udah
nyobain rasanya naik sepeda itu tanpa aku.
Aku harap kamu betah naik sepeda itu, sampai...
two years later, pas aku balik, buat kamu
Shania meneteskan air mata saat membaca
surat itu. Lalu ia menengok ke belakang, tempat
dimana aku biasa duduk di kelas. Ochi yang
heran melihat Shania bersedih, langsung segera
menghampiri ke meja Shania.
Shania tidak berkata sedikitpun saat Ochi
menghampirinya, Ochi mengambil surat di
tangan
Shania, lalu membacanya. Ochi menengok ke
meja belakang, lalu tersenyum.
Diberdayakan oleh Blogger.